berjanjilah,
walau apa yang berlaku,
kita masih akan selalu memandang langit dengan pandangan yang sama
berjanjilah,
walau apa yang berlaku,
kita masih akan mendongak ke langit dengan rasa lapang di dada.
berjanjilah,
bahwa walau sekuat mana kita diduga,
tak akan sekali-kali kita akan mendongak untuk bertanya- DIA "kenapa" ..
berjanjilah,
bahwa,
walau hujan dan petir akan tetap membuat langit kelam,
kita masih juga akan tetap percaya,
bahwa mendung akan akhirnya pergi, dan langit akan kembali biru,
seperti suatu masa dahulu.
berjanjilah,
bahwa,
walau apa pun yang terjadi,
kita akan senantiasa optimis dan percaya,
bahwa semuanya akan akhirnya nanti baik-baik saja.
berjanjilah,
untuk tidak akan melihat langit dengan pandangan mata berkaca,
mempersoal takdir dan bertanya mengapa,
lantas berputus asa.
berjanjilah,
untuk tetap mendongak ke langit dengan harapan dan doa
tersenyum, dan percaya bahwa DIA sangat tahu apa yang sedang dilakukan - Nya.
-- semoga Allah melindungi aku dari putus asa.
(via tersenyum-melihat-langit)
Dear kesabaran,
Bahwasannya tanpamu runtuhlah aku ini,
selinapkan aku dalam celah beranimu,
biar ku lawan habis setiap malas yang menyerang.
Dear kesehatan,
Berdiamlah sejenak, selamanya
Sejauh, sedalam, se-tak-terjangkau-kan
Oleh peluh, kesah Oleh keluh, resah
Tidaklah uh, janganlah ah..
JANGAN MENGELUH!!
Dear tegar tersayang,
Berdirilah tegap disana,
Di pangkal hati, di tengah dada.
Pada jantung yang terus ber-sistole dan diastole
Mengalir bersama darah
Dalam vena, dalam arteri,
Terus, terus, hingga sejauh, jauh.
Dear peristirahatan,
Sesungguhnya engkau adalah akhir,
Pada sungai-sungai jannatun na’im,
Yang mengalir, bagai susu dan madu
Menyejukkan pilu,
Yang padanya ia tak ada.
Sederhana, namun sangat mengena dihati. love it :)
(via : tisataasyara)
dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah
dari mana
dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang
hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga
jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap
di dahan pohon mangga itu
maghrib ini di dalam doaku kau menjelma angin yang turun
sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang
entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi
rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi
kehidupanku
aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu
Sapardi Djoko Damono
1989
